|
Merokok Sudah Jadi Gaya Hidup di Sekolah
Oleh : Marjohan
http://penulisbatusangkar.blogspot.com
*) Marjohan adalah
guru SMK Negeri 3 Batusangkar juga seorang Tour Guiding
Ada beberapa undang- undang atau
peraturan yang tidak tertulis di sekolah, sudah disepakati dan
diketahui oleh orangtua, anak didik,pendidik (guru) dan masyarakat.
Peraturan- peraturan tersebut kalau dirunut dari skala larangan
paling berat sampai kepada larangan ringan adalah seperti: tidak
boleh melakukan pergaulan bebas, narkoba, minuman keras miras),
berjudi, pornografi, pornoaksi, merokok, memakai perhiasan
berlebihan, berambut panjang, memakai seragam sekolah yang tidak
pantas, sampai kepada mencontek selama ujian. Dan larangan ringan
terbaru adalah tidak boleh membawa hand phone ke sekolah karena bisa
mengganggu PBM proses belajar mengajar.
Mengkonsumsi rokok adalah dilarang di sekolah. Ini sudah diketahui
oleh semua anak didik, guru dan orangtua siswa. Namun fenomena di
negara kita dan juga fenomena di lingkungan sekolah bahwa hukum atau
peraturan hanya untuk dipatuhi oleh kalangan bawah, kalau di sekolah
adalah untuk anak didik. Seperti larangan merokok, ini hanya berlaku
dan harus dipatuhi oleh anak didik. Kalau mereka ketahuan melanggar
merokok dalam lingkungan sekolah malah juga untuk luar sekolah- maka
berarti mereka membuat kasus pelanggaran peraturan sekolah. Kasus
pelanggaran tatatertib sekolah harus diproes mulai dari tingkat wali
kelas, guru BK (Bimbingan Konseling), pihak Kepala Sekolah. Dan
kalau tidak bisa dibina maka mereka dibinasakan- disuruh pindah
sekolah atau dipulangkan ke orangtua.
Pelaksanaan larangan merokok tentu saja bervariasi wujudnya pada
banyak sekolah. Ada sekolah yang melaksanakan dengan serius dan
penuh tanggung jawab dan ada pula yang menerapkannya penuh pura-pura
dan sekedar basa- basi. Sekolah yang sangat peduli dengan kualitas
pendidikan, umumnya tidak mengenal basa basi dalam menegakan
disiplin dan wibawa sekolah. Namun bagi sekolah yang susah payah
untuk meraih prestasimis maka disiplin atau peraturan sekolah bisa
ditawar- juga bisa sekedar basa-basi.
Sekolah yang siswanya, apa lagi kalau guru gurunya, gemar merokok
dapat dipantau dan dijumpai di mana- mana. Seringkali sarana tempat
merokok mereka adalah di kantin atau di warung seputar sekolah milik
masyarakat lokal. Beberapa anak didik sengaja membolos beberapa
menit atau mencari alasan untuk keluar kelas dan menyelinap ke dalam
warung dekat sekolah agar bisa mengepulkan asap rokok untuk
memperoleh decak kagum dari teman- teman yang juga merintis diri
untuk jadi perokok. Sebagian yang lain sengaja memilih tempat yang
agak jauh dari sekolah agar bisa merokok seperti yang dianjurkan
oleh puluhan sampai ratusan iklan rokok yang dikemas sangat menarik
dan diiringi rayuan seperti : merokok untuk mewujudkan selera pria
sejati.
Ada kritikan yang patut kita lontarkan kepada pemilik warung yang
melegalkan rokok untuk siswa di seputar sekolah. Silahkan mencari
rezki lewat berdagang dengan menyediakan kebutuhan makan minum warga
sekolah, tetapi jangan mencari untung lewat bisnis rokok karena
merokok adalah illegal untuk anak didik dan warga sekolah.
Tentu saja semua anak didik sudah tahu bahwa mereka tidak boleh
merokok. Tetapi sebahagian mereka menjadi bingung memahami nasehat
yang berbunyi seperti ”merokok dapat merusak kesehatan”. Namun model
atau suri teladan mereka di rumah (orang tua) dan di sekolah (guru-
guru) melanggar nasehat ini. Dan akhirnya sebahagian mereka yang
lagi dilanda kebingungan untuk mencoba merokok atau tidak perlu
merokok- merintis jalan untuk menjai perokok sejati.
Larangan merokok tampaknya hanya ditujukan untuk anak didik,
bagaimana untuk guru- guru ? larangan merokok tidak berlaku untuk
guru guru perokok. Barangkali karena peraturan dan larangan
dirancang oleh guru dan harus dipatuhi oleh anak didik. Sementara
guru- guru sendiri seolah olah memiliki hak kebal hukum. Pantaslah
banyak guru yang semau gue merkok di lingkungan sekolah.
Guru perokok yang masih bersembunyi saat merokok masih bisa dianggap
sebagai guru perokok yang memiliki sopan santun. Namun bagaimana
dengan guru yang memperlihatkan kekuasaannya , dengan rasa enteng
minta tolong belikan rokok pada anak didik dan merokok di depan
keramaian murid seenaknya. Dan ada guru yang dengan arrogannya
merokok di dalam kelas saat melaksanakan PBM- Proses Belajar
Mengajar. Bagi guru yang begini maka berlakulah pribahasa yang
berbunyi : guru kencing berdiri, murid kencing berlari. Kalau guru
menjai suri teladan yang jelek maka tentu kelak anak didik mereka
menjadi lebih jelek lagi. Kalau guru adalah perokok yang hebat dalam
kelas maka jangan salahkan kalau kelak ada anak didik yang menjadi
pemakai narkoba dan peminum miras- minuman keras.
Melihat fenomena di atas maka dewasa ini setiap anak didik perlu
untuk memiliki daya tahan yang lebih hebat untuk tidak merokok.
Karena ajakan untuk merokok- memasukan asap rokok kretek atau zat-
zat beracun ke dalam paru- paru datang dari berbagai pihak. Saat
mereka tahu dengan bahaya merokok, namun di rumah mata mereka
menatap orang yang mereka hargai bapak, kakak, paman, kakek dan
tetangga menghisap rokok dengan ekspresi kenikmatan yang penuh engan
kepalsuan. Di sekolah mereka juga terganggu oleh gaya guru yang
dengan enteng menghisap rokok. Siswa yang tidak pernah merokok pun
akhirnya memperoleh pressure atau tekanan dari teman sebaya yang
sudah menjadi perokok junior. Mereka yang tidak merokok akan diberi
ejekan- hukuman psikologis- sebagai orang yang tidak jantan. ”hanya
orang perempuanlah yang tidak merokok, atau dia tidak merokok karena
pingin naik haji- alias ia orang yang amat kikir”. Tekanan dalam
bentuk ejkan sangat mujarab utuk membuat anak didik teman sebaya)
segera mencoba merokok sampai akhirnya juga jadi pencandu rokok.
Andaikata ada yang tidak percaya dengan judul tulisan ini, maka
marilah kita kunjungi sekolah- sekolah SLTA – SMA, SMK dan Madrasah
di beberapa daerah pada saat sekolah usai. Kita akan melihat
siswa-siswa bubar, melangkah menuju rumah, maka pasti terlihat
beberapa siswa mulai memegang bungkus rokok. Mereka saling bercanda
dan melempar ejekan pada yang tidak merokok atau meledek teman yang
merek rokoknya kurang gaul. Memang merokok kelihatan sudah menjadi
gaya hidup bagi sebahagian guru dan sebahagian anak didik. Fenomena
para perokok adalah bila mereka saling berjumpa maka mereka saling
meminta atau menawarkan korek api. Atau sebelum mereka memulai
percakapan mereka saling menyodorkan bungkus rokok kretek sebagai
tanda persahabatan yang tulus. Ini adalah bukti bahwa merokok bagian
dari gaya hidup. Sambil mengepulkan asap nikotin dari bibir yang
hitam maka barulah meluncur kalimat- kalimat pergaulan mereka.
Sepuluh atau dua puluh tahun yang silam jumlah produksi rokok tentu
saja tidak sebanyak yang sekarang. Namun kini produksi rokok sudah
amat mengkhawatirkan dari sudut jumlah rokok dan jumlah merek rokok
itu sendiri. Rokok rokok- pemilik industri rokok- tersebut saling
berlomba untuk menarik dan mengajak semua orang agar segera mejadi
perokok sejati. Iklan rokok dengan bahasa yang indah- membujuk dan
mengajak semua orang untuk jadi perokok- terpajang didepan mata
dimana- mana; di gardu polisi lalulintas, pada jalan raya utama, di
tempat keramaian anak anak muda. Malah industri rokok tidak segan-
segan bersedia menjai sponsor atau donator dari berbagai kegiatan
sekolah selagi spandu nama rokok mereka tidak lupa untuk dipajang.
Masih adakah orang yang peduli sekarang untuk menasehati anak didik
dan guru-guru untuk tidak merokok. Terus terang bahwa merokok
sebagai gaya hidup tidak memberikan manfaat apa- apa, kecuali hanya
memberi mudharat dalam meracuni paru- paru anak anak muda. Memilih
merokok sebagai gaya hidup sangat merugikan diri karena mendatangkan
penyakit. Menjadi penghisap rokok hanya memberikan keuntungan bagi
pemilik pabrik rokok yang punya niat tidak baik yaitu untuk meraup
laba dan ikhlas membuat pencandu rokok untuk segera sakit atau pelan-
pelan bergerak menuju kematian. Bukankah sudah cukup banyak jumlah
orang yang meninggal karena mengalami sakit paru- paru gara- gara
mejadi pencandu rokok yang hebat dalam hidupnya. Maka kini
fikirkanlah untuk menjadikan merokok sebagai gaya hidup di sekolah.
email-guruvalah
:
fal@guruvalah.20m.com
Bergabunglah
dalam :
MILIST GURUVALAH
Guruvalah
|