|
Bid'ahkah ucapan
“Shodaqallahul adzim” ?
Oleh M Iman Faturohman
Email: retaxz@yahoo.com
Dasar agama Islam ialah hanya beramal dengan
Kitabullah dan Sunnah rasulNya. Keduanya adalah sebagai marja’ –rujukan-
setiap perselisihan yang ada di tengah-tengah kaum muslimin. Siapa
yang tidak mengembalikan kepada keduanya maka dia bukan seorang
mukmin. Allah berfirman, “Maka demi Rabbmu, mereka (pada hakekatnya)
tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim dalam perkara yang
mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam
hati mereka terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima
dengan sepenuhnya.” (QS An Nisa : 65).
Telah mafhum bersama bahwa Allah menciptakan manusia bukan untuk
suatu urusan yang sia-sia, tetapi untuk satu tujuan agung yang
kemaslahatannya kembali kepada manusia yaitu agar beribadah
kepadaNya. Kemudian tidak hanya itu saja, tetapi Allah juga mengutus
rasulNya untuk menerangkan kepada manusia jalan yang lurus dan
memberikan hidayah –dengan izin Allah- kepada sirotil azizil hamid.
Allah berfirman, “Dan Kami tidak menurunkan kepadamu Al Kitab (Al
Quran) ini, melainkan agar kamu dapat menjelaskan kepada mereka apa
yang mereka perselisihkan itu dan menjadi petunjuk dan rahmat bagi
kaum yang beriman.” (QS An Nahl : 64).
Sungguh, betapa besar rahmat Allah kepada kita, dengan diutusnya
Rasulullah, Allah telah menyempurnakan agama ini. Allah telah
berfirman, “…Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Kucukupkan kepadamu ni’matKu dan telah Kuridhoi Islam itu
jadi agama bagimu…” (QS Al Maidah : 3). Tak ada satu syariatpun yang
Allah syariatkan kepada kita melainkan telah disampaikan oleh
rasulNya. Aisyah berkata kepada Masyruq, “Siapa yang mengatakan
kepadamu bahwa Muhammad itu telah menyembunyikan sesuatu yang Allah
telah turunkan padanya, maka sungguh ia talah berdusta !” (HR.
Bukhori Muslim).
Berkat Al Imam As Syatibi, “Tidaklah Nabi meninggal kecuali beliau
telah menyampaikan seluruh apa yang dibutuhkan dari urusan dien dan
dunia…” Berkat Ibnu Majisyun, “Aku telah mendengar Malik berkata,
“Barang siapa yang membuat bid’ah (perkara baru dalam Islam),
kemudian
menganggapnya baik, maka sungguh dia telah mengira bahwa Muhammad
telah menghianati risalah, karena Allah telah berfirman, “Pada hari
ini telah Kusempurnakan unutukmu agamamu…””” (QS Al Maidah : 3).
Kaum muslimin –rahimakumullah-, sahabat Ibnu Mas’ud telah berkata,
“Ikutilah, dan jangan kalian membuat perkara baru !”. Suatu
peringatan tegas dimana kita tidak perlu untuk menambah–nambah
sesuatu yang baru atau bahkan mengurangi sesuatu dalam hal agama.
Banyak ide atau atau anggapan–anggapan baik dalam agama yang tidak
ada contohnya bukanlah perbuatan terpuji yang akan mendatangkan
pahala, tetapi justru yang demikian itu berarti menganggap kurang
atas syariat yang telah dibawa oleh rasulullah, dan bahkan yang
demikian itu dianggap telah membuat syariat baru. Seperti perkataan
Iman Syafi’i, ”Siapa yang membuat anggapan-anggapan baik dalam agama
sungguh ia telah membuat syariat baru.”
Ucapan “sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat
darinya bukanlah hal yang asing di kalangan kita kaum muslimin
–sangat disayangkan-. Dari anak kecil sampai orang tua , pria atau
wanita sudah biasa mengucapkan itu. Tak ketinggalan pula –sayangnya-
para qori Al Quran dan para khotib di mimbar-mimbar juga
mengucapkannya bila selesai membaca satu atau dua ayat AlQuran. Ada
apa memangnya dengan kalimat itu ?
Kaum muslimin –rahimakumullah-, mengucapkan “sodaqollahul adzim”
setelah selasai membaca Al Quran baik satu ayat atau lebih adalah
bid’ah, perhatikanlah keterangan- keterangan berikut ini.
Pertama
Dalam shahih Bukhori no. 4582 dan shahih Muslim no. 800, dari hadits
Abdullah bin Mas’ud berkata, “Berkata Nabi kepadaku, “Bacakanlah
padaku.” Aku berkata, “Wahai Rasulullah, apakah aku bacakan kepadamu
sedangkan kepadamu telah diturunkan?” beliau menjawab, “ya”. Maka
aku membaca surat An Nisa hingga ayat “Maka bagaimanakah (halnya
orang kafir nanti), apabila Kami mendatangkan seorang saksi (rasul)
dari tiap-tiap umat dan Kami mendatangkan kamu (Muhammad) sebagai
saksi atas mereka itu (sebagai umatmu).” (QS An Nisa : 41) beliau
berkata, “cukup”. Lalu aku (Ibnu Masud) menengok kepadanya ternyata
kedua mata beliau berkaca-kaca.”
Sahabat Ibnu Mas’ud dalam hadits ini tidak menyatakan “sodaqollahul
adzim” setelah membaca surat An Nisa tadi. Dan tidak pula Nabi
memerintahkannya untuk menyatakan “sodaqollahul adzim”, beliau hanya
mengatakan kepada Ibnu Mas’ud “cukup”.
Kedua
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 6 dan Muslim no. 2308
dari sahabat Ibnu Abbas beliau berkata, “Adalah Rasulullah orang
yang paling giat dan beliau lebih giat lagi di bulan ramadhan,
sampai saat Jibril menemuinya –Jibril selalu menemuinya tiap malam
di Bulan Ramadhan- bertadarus Al Quran bersamanya”.
Tidak dinukil satu kata pun bahawa Jibril atau Nabi Muhammad ketika
selesai qiroatul Quran mengucapkan “sodaqollahul adzim”.
Ketiga
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 3809 dan Muslim no.
799 dari hadits Anas bin Malik –radiyallahu anhuma-, “Nabi berkata
kepada Ubay, “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan
kepadamu “lam yakunil ladzina kafaru min ahlil kitab” (“Orang-orang
kafir yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa
mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya)…”) (QS Al Bayyinah : 1).
Ubay berkata, ”menyebutku ?” Nabi menjawab, “ya”, maka Ubay pun
menangis”. Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah
membaca ayat itu.
Keempat
Diriwayatkan oleh Bukhori dalam shahihnya no. 4474 dari hadits
Raafi’ bin Al Ma’la –radiyallahu anhuma- bahwa Nabi bersabda,
“Maukah engkau kuajari surat yang paling agung dalam Al Quran
sebelum aku pergi ke masjid ?” Kemudian beliau (Nabi) pergi ke
masjid, lalu aku mengingatkannya dan beliau berkata, “Alhamdulillah,
ia (surat yang agung itu) adalah As Sab’ul Matsaani dan Al Quranul
Adzim yang telah diberikan kepadaku.”
Beliau tidak mengatakan “sodaqollahul adzim”.
Kelima
Terdapat dalam Sunan Abi Daud no. 1400 dan Sunan At Tirmidzi no.
2893 dari hadits Abi Hurairah dari Nabi, beliau bersabda, “Ada satu
surat dari Al Quran banyaknya 30 ayat akan memberikan syafaat bagi
pemiliknya
–yang membacanya/ mengahafalnya- hingga ia akan diampuni,
“tabaarokalladzii biyadihil mulk” (“Maha Suci Allah yang
ditanganNyalah
segala kerajaan…”) (QS Al Mulk : 1).
Nabi tidak mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya.
Keenam
Dalam Shahih Bukhori no. 4952 dan Muslim no. 494 dari hadits Baro’
bin ‘Ajib berkata, “Aku mendengar Rasulullah membaca di waktu Isya
dengan “attiini waz zaituun” , aku tidak pernah mendengar seorangpun
yang lebih indah suaranya darinya”.
Dan beliau tidak mengatakan setelahnya “sodaqollahul adzim”.
Ketujuh
Diriwatkan oleh Imam Muslim dalam Shahihnya no. 873 dari hadits
Ibnat Haritsah bin An Nu’man berkata, “Aku tidak mengetahui/hafal
“qaaf wal qur’aanil majiid” kecuali dari lisan rasulullah, beliau
berkhutbah dengannya pada setiap Jumat”.
Tidak dinukil beliau mengucapkan setelahnya “sodaqollahul adzim” dan
tidak dinukil pula ia (Ibnat Haritsah) saat membaca surat “qaaf”
mengucapkan “sodaqollahul adzim”.
Jika kita mau menghitung surat dan ayat-ayat yang dibaca oleh
Rasulullah dan para sahabatnya serta para tabiin dari generasi
terbaik umat ini, dan nukilan bahwa tak ada satu orangpun dari
mereka yang mengucapkan “sodaqollahul adzim” setelah membacanya maka
akan sangat banyak dan panjang. Namun cukuplah apa yang kami
nukilkan dari mereka yang menunjukkan bahwa mengucapkan
“sodaqollahul adzim” setelah membaca Al Quran atau satu ayat darinya
adalah bid’ah –perkara yang baru yang tidak pernah ada dan di
dahului oleh genersi pertama.
Kaum muslimin –rahimakumullah-, satu hal lagi yang perlu dan penting
untuk diperhatikan bahwa meskipun ucapan “sodaqollahul adzim”
setelah qiroatul Quran adalah bid’ah, namun kita wajib meyakini
dalam hati perihal maknanya bahwa Allah maha benar dengan seluruh
firmannya, Allah berfirman, “Dan siapa lagi yang lebih baik
perkataanya daripada Allah”, dan Allah berfirman, “Dan siapa lagi
yang lebih baik perkataanya dari pada Allah”. Barang siapa yang
mendustakanya firman Allah maka ia kafir atau munafiq.
Semoga Allah senantiasa mengokohkan kita diatas Al Kitab dan Sunnah
dan Istiqomah diatasnya. Wal ilmu indallah.
email-guruvalah
:
fal@guruvalah.20m.com
Bergabunglah
dalam :
MILIST GURUVALAH
Guruvalah
|